
Lampung – Media Warta Global Lampung
Peringatan Hari Krida Pertanian yang jatuh setiap tanggal 21 Juni menjadi momentum penting untuk mengingat kembali peran strategis sektor pertanian dalam menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan nasional. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor pertanian saat ini, akademisi sekaligus pengamat pembangunan daerah, Dr. Yunada Arpan, menegaskan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada keberlangsungan lahan pertanian dan kesejahteraan petani.
Dalam pandangannya, Indonesia yang selama ini dikenal sebagai negara agraris justru menghadapi ancaman serius akibat terus berkurangnya luas lahan sawah produktif, minimnya regenerasi petani, serta meningkatnya ketergantungan terhadap impor untuk beberapa komoditas strategis.
"Bangsa yang kehilangan sawah sesungguhnya sedang kehilangan masa depannya. Pertanian bukan sekadar sektor ekonomi, melainkan fondasi kedaulatan negara," ujar Yunada Arpan dalam refleksi Hari Krida Pertanian 2026.
Menurutnya, bangsa yang mampu memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya akan lebih tangguh menghadapi berbagai krisis global, mulai dari gejolak ekonomi, konflik geopolitik, hingga dampak perubahan iklim. Sebaliknya, negara yang bergantung pada pasokan pangan dari luar akan berada dalam posisi yang rentan.
Ia menilai bahwa selama ini peringatan Hari Krida Pertanian sering kali hanya menjadi agenda seremonial tanpa diikuti langkah nyata untuk menyelesaikan persoalan mendasar yang dihadapi petani. Mulai dari alih fungsi lahan pertanian, rendahnya kesejahteraan petani, lambatnya regenerasi petani muda, hingga ketidakstabilan harga hasil panen.
Di tengah arah pembangunan nasional yang menempatkan swasembada pangan sebagai salah satu prioritas melalui program Asta Cita, pemerintah dinilai telah menunjukkan komitmen dengan mendorong perluasan lahan pertanian, perbaikan distribusi pupuk, serta penguatan sektor pertanian sebagai penopang berbagai program nasional.
Meski demikian, Yunada mengingatkan bahwa keberhasilan swasembada pangan tidak cukup hanya diukur dari peningkatan produksi nasional.
"Tujuan akhir pembangunan pertanian bukan hanya menghasilkan beras yang melimpah, tetapi juga menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi para petani," tegasnya.
Ia juga menyoroti tiga tantangan besar yang saat ini dihadapi sektor pertanian Indonesia. Pertama, menyusutnya lahan pertanian akibat alih fungsi menjadi kawasan permukiman, industri, maupun infrastruktur. Kedua, krisis regenerasi petani karena semakin sedikit generasi muda yang tertarik menggeluti sektor pertanian. Ketiga, dampak perubahan iklim yang menyebabkan cuaca ekstrem dan meningkatkan risiko gagal panen.
Belajar dari negara-negara maju seperti Belanda, Jepang, dan Israel, keberhasilan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh luas wilayah, tetapi juga oleh dukungan riset, inovasi teknologi, sistem logistik yang modern, serta tata kelola yang konsisten.
Karena itu, perlindungan terhadap lahan pertanian, modernisasi teknologi, digitalisasi sektor pertanian, penguatan kelompok tani dan koperasi modern, serta peningkatan akses petani terhadap pupuk, benih unggul, pembiayaan, dan asuransi pertanian harus menjadi prioritas bersama.
Lebih jauh, Yunada menegaskan bahwa regenerasi petani merupakan pekerjaan rumah yang tidak bisa ditunda. Menurutnya, teknologi dapat dibeli dan infrastruktur dapat dibangun, tetapi menghadirkan generasi baru petani membutuhkan waktu panjang dan komitmen berkelanjutan.
Hari Krida Pertanian, lanjutnya, bukan sekadar perayaan tentang sawah dan panen raya. Momentum ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap butir nasi yang dikonsumsi masyarakat terdapat kerja keras jutaan petani yang setiap hari menghadapi risiko cuaca, fluktuasi harga, dan ketidakpastian pasar.
"Penghormatan tertinggi kepada petani bukanlah seremoni setiap 21 Juni, melainkan kebijakan yang membuat mereka tetap bangga menjadi petani dan hidup sejahtera dari tanah yang mereka kelola," pungkasnya.
Dengan demikian, Hari Krida Pertanian 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang refleksi, tetapi juga menjadi momentum memperkuat komitmen seluruh pihak dalam menjaga lahan pertanian, meningkatkan kesejahteraan petani, dan mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia di masa depan.(Sahilman)
